Jumat, 18 Maret 2016

Surat untuk sang pencerah

Engkau menemukanku saat aku tak tau arah
Merangkul mendekap tak kenal lelah
Di kalah hati ini gundah gulana hanya kau tujuanku
Damai tenang bahagia saat berjumpah denganmu
Engkau yang tau bagai mana kuncup itu mulai mekar
engkau setia menyirami dan memberi pupuk hingga ia mekar
kuncup itu Merekah perlahan penuh arti
Tahap demi tahap begituh berarti
                Bak metamorphosis yang terus berfase
Iya tak pernah berhenti bermetamorfosis
karena hijrah ke jannah-Nyalah akhir diri metamorphosis ini.
Ku harap asa ini takkan pernah sirnah oleh waktu
Jujur angin yang kencang kadang membuat diri ini takut kuncup itu akan jatuh sebelum mekar.
Dan tali itu salah satu perekat agar iya tak gugur
 tali pengikat yang merekat namun tali itu kini akan berganti,
dan ku harap iya lebih mengokohkan sampai ke akar kuncup yang mulai mekar itu.

Sepenggal puisi biasa-biasa saja tapi mengungkapkan apa yang tersirat dihati ini, jika mau di ungkap semua cerita dari awal rasanya malu saat engkau harus mengejarku, tapi sekarang aku yang mengejarmu, tapi mungkin kita tidak bersatu lagi seperti sebuah cincin itu tapi kita kan selalu bertemu tanpa ikatan kapanpun dan di manapun aku bisa menemuimu.
Metamorphosis itu sedikit demi sedikit berubah walau masih belum sampai tahap yang sempurna hanya berharap engkau dapat selalu ku andalkan sebagai mentari yang menemani setiap tahap metamorphosis itu.
Tak dapat ku pungkiri seribu rasa menghampiri saat kita tak dapat lagi bersama, sungguh mungkin tak dapat lagi ku temukan mbak sebaik dirimu yang sangat mengerti yang selalu mendukung semua pontensi walau aku orang yang minderan tapi kau mendorongku sehingga sayap itupun mulai berkembang perlahan.
Satu kejadian yang mungkin buatmu sangat berkesan dan mungkin sudah berjuta kali kau ceritakan, saat sore itu handponeku berdering terdengar suara merdumu tanpa basa basi langsung ku iyakan ajakanmu. Ku pikir itu cuma kejadian biasa tapi ternyata itu awal langkah besarku. Semua berubah walau terasa perlahan tapi engkau memahamkan apa yang selama ini banyak tak ku pahami.
                Yah engkau yang mengerti aku anak yang rasa ingin tahu sangat tinggi di bilang terlalu kritis, sangking kritis nyebelin( maaf yah temen-temen). Berjuta celotehanku yang mungkin menyakitkaan hati engkau balasan dengan senyuman dan jawaban lembut untuk memahamkan diri ini. Memang terkadang aku susah di atur dan egois tapi kau seolah tau celahku sehingga aku menjadi anak yang sedikit patuh padamu.
                Banyak kisah tentangmu dan diriku susah bahagia kau selalu ada, tak tau berapa masalah yang kau rasa tapi senyummu tak kan sirnah di depanku. Menjawab akan semua keluhku mendengar colotehanku yang menggerutuh.
Rasanya tak ingin berpisah darimu, tak mau tapi rasa gundah ini selalu bisa kau tebas dan menenangkanku dengan sejuta kata indahmu, mungkin sekarang waktunya aku belajar lebih banyak lagi.
 Sekarang burung itu kau lebarkan sayapnya
 Semoga iya dapat mengepakakan sayapnya
Merajut asa yang terpendam selama ini,
Semoga iya dapat melebarkan sayapnya dan terbang tinggi.
 Menjelajahi dunia baru yang mungkin salama ini tidak di ketahui,
Ingin rasanya berdiam diri saja
 Tapi sekali lagi kau menyentuh hati dan pikiranku untuk tenang melebarkan sayapku.
 Yah itulah dirimu yang selalu tau meluluhkan pikiran  dan hati ini.

Dulu sedikitpun aku tak bisa membayangkan dan tidak mau berpisah aku pikir jika terjadi aku akan menangis sejadi-jadihnya tapi ternyata tidak aku menerimanya dengan ikhlas, terima kasih telah menjadi perantara pelita itu,semua terasa lebih terang.
Ada kegelisahan yang tersirat di wajahmu apakah aku bisa mengepakan sayap ini yang selama ini aku selalu di mengerti dan sekarang aku harus mengerti orang lain. Apakah aku bisa, insyaallah do’amu selalu ada untuku ku yakin bisa.
Sekarang aku mempunyai adik yang sepertiku bahkan lebih dari aku, yah di situ aku selalu teringat akan kesabaran dirimu menghadapiku, bagaimana tegarnya engkau mengokohkanku bagaimana terjalnya engkau mencariku, betapah kuatnya engkau selalu mendekapku. Iya itu yang menjadikanku kuat untuk dapat sepertimu saat memiliki adik sama seperti aku. Betapa hebatnya dirimu menghadapiku. Apakah aku bisa sepertimu??
Semoga nanti aku bisa sepertimu, ukhty cerdas, idealisme yang tinggi berkemauan keras dan tak pernah ada kata takut dalam kamusmu, semua seakan mudah saat kau berkata bisa. Yah power itulah yang terkadang merasuki diri ini apa yang ku  anggap tak bisa selalu kau yakinkan diri ini bisa.
Masih teringat saat kita pernah berada di ruangan yang sama tiap harinya kita bersama rasanya bahagia banget seseorang yang ku kagumi kini dapat ku temui setiap hari, rasanya telah banyak yang ku dengar darimu, tapi takkan pernah habis.
 rasanya nyaman saat bulir-bulir kata indah kau lantunkan,kau banyak mengajariku akan hidup ini, setiap masalah yang kuhadapi seolah kau yang memegang kuncinya. Selalu ada cara yang kau tawarkan membuat diri ini tenang, terkadang juga suka haru saat kau sudah lelah dan malam telah larut tapi masih semangat menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

Satu yang membuat aku sangat salut terhadapmu , apapun yang menurutku tak mungkin selalu mungkin jika kau menyemangatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar