Rabu, 03 Desember 2014

Lika-Liku Hidupku Menjadi Mahasiswa


Aku adalah mahasiswi di Universitas Sriwijaya jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, aku tidak tahu mengapa aku dapat masuk kejurusan sosiologi.  Padahal dulu cita-citaku ingin jadi dokter, dan saat kelas 12 SMA aku ingin masuk jurusan geografi, tetapi tidak ada di UNSRI, lalu aku memilih jurusan yang sesuai denganku di universitas sriwijaya yang pasti aku tidak mau masuk fakultas ekonomi, waktu itu aku juga tidak tahu mengapa aku tidak mengambil akutansi atau manajemen. Malah aku memilih sosiologi,  hanya satu yang aku pikirkan di manapun aku berada aku harus bisa jadi yang terbaik.
Di semester pertama aku berontak akan takdir padahal ini pilihanku sendiri. Khawatir nanti akan jadi apa, dan orang-orang di sekitarku mulai mencemooh, “mau jadi apa di jurusan sosiologi?”. Aku juga merasa kecil hati. Tapi, aku berkatadi dalam hatiku, ini pilihanku kalau aku mau akutansi dari dulu aku akan memilihnya. Jadi apapun aku kelak yang pasti sekarang, aku berusaha. Namun, aku tidak tahu mengapa di semester pertama aku sangat terpuruk mungkin, karena belum terbiasa melakukan segala hal sendiri, jauh dari orang tua. Aku sungguh-sungguh terjatuh di semester pertama rasanya seperti mimpi saat melihat nilai di akademik. Langsung kepikiran untuk pindah jurusan. Apa aku salah jurusan. Pertanyaan itu terus muncul di pikiranku, apa dosen yang salah memberiku nilai. Mungkin nilai yang berikan kepadaku adalah nilai yang di asalan saja. Aku masuk terus, ngerjain tugas terus, mengikuti kuis, MID dan UAS. Menapa nilaiku jatuh dari teman-temanku yang aku pikir lebih malas dari aku. Aku juga kesal kenapa setiap tugas kuis, MID, UAS nilainya tidak pernah di kasih tahu, salahnya dimana? aku pasti akan suka rela menerima nilai ini jika, aku tau berapa hasil tugas kuis, MID semester dan kertasnya di kembalikan lagi ke mahasiswa.
Pemberontakan diriku tak bisa kutahan lagi, saat mengingat dengan IPKku aku mulai lemas. Namun orang-orang di sekitarku bagai angin sejuk di padang pasir, mereka selalu memotivasiku, salah satunya temenku saat ia uga cerita kalu nilainya tak jauh beda dengan nilaiku, sedikit menghibur, tahu kalo ada teman yang satu nasib denganku. Salah satu mbak tingkatku berkata “jangan sia-siakan kesempatan ini jauh-jauh datang dari ulak jermun hanya membawa nilai kecil itu mengecewakan”, sedikit memberiku motivasi. Aku harus tunjukan jika aku bisa, kata-kata motivasi ini mulai terngiang lagi di pikiranku, “di manapun engkau berada maka berusahalah menjadi yang terbaik yang penting berusaha hasil akhir adalah hadiah”. Banyak motivasi yang ku dapatkan dari orang-orang di sekitarku yaitu “kerjakan semuanya ikhlas karena Allah untuk mencari berkha-Nya”. “Allah lebih menyukai sebuah proses bukan sebuah hasil”. Dengan semangat yang menggelora aku kembali berusaha, mencoba kembali bertarung dengan nasib, di jurusan sosiologi. Tidak akan ku sia-siakan lagi kesempatan ini, saat aku berpikir mengapa aku bisa mendapatkan nilai kecil,  ini semua salahku bukan salah takdir atau salah dosen tapi kesalah diriku sendiri yang terlalu santai dan malas menganggap semuanya mudah, tidak serus belajar dan pola belajarku waktu semester 1 sama seperti waktu SMA.
Sudah cukup menyalakan orang lain dan jangan menyalakan diri sendiri, tidak baik berlarut-larut dalam kesedian sekarang aku harus bangkit, berusaha sungguh-sungguh tidak ada lagi kata malas tidak ada lagi kata sedih, dulu aku selalu mengeluh dengan kesepianku di kost, tidak menyenangkan dan capek. Mengerjakan semuanya sendiri, aku harus mengganti pola pikirku. Di sini aku bukan mencari kesenangan, di sini aku bukan untuk bersantai dan menikmati hidup, disini tempat aku belajar, bertarung dengan nasib buruk. Mata ku mulai tebuka saat di semester dua. Aku mulai mendengar, melihat dan mencari apa yang salah dengan diriku. Ini adalah awal baru bagiku, khAwatir bagaimana kalau aku lebih jatuh atau lebih terpuruk dari semester kemarin, itu mimpi buruk bagiku sekaligus cambuk saat aku malas, karena itu IPKku tulis besar-besar di kamarku, agar menjadi alarem dalam hidupku. Salah satu temen sekostnku memberiku saran agar setiap pulang kuliah catatanku di catat ulang untuk di rapikan kembali.  Aku pikir itu saran yang baik, tulisanku hancur karena dosen jelasinnya cepat bukan seperti waktu di SD atau SMP guru menunggu kita untuk selesai mencatat, mungkin karena catatan yang hancur jadi akau malas membacanya. Terus saran lain juga aku dapatkan dari teman SMAku yaitu walau kita tidak punya catatan atau tidak punya buku. Setidaknya kita tau Silabus perkuliahan dan kita cari di internet, Jangan diam saja ketika tidak ada catatan dan tidak ada buku itu hanya alasan dari kemalasan. Dan ini saran dari mbak tingkatku saat dosen menjelaskan jangan hanya mengobrol atau mencatat di slide power point saja tapi dengerin apa yang di jelaskan dosen itu lebih penting. Belajar jangan hanya mengejar nilai tapi lakukanlah untuk mendapatkan ilmu, jangan takut salah yang penting telah mencoba.
Di semester dua semua saran-saran, kata-kata motivasi dan cambukan nilai terus terbayang-bayang dalam hidupku. Aku berjanji kepada diri sendiri tidak mau terjatuh untuk kedua kali. Aku harus mengambil hikmah dari semua ini karena kata orang “guru yang paling baik adalah pengalaman” dan  jika aku tidak jatuh sekarang mungkin aku tidak tahu jika pola belajarku salah, mungkin jika aku tidak terjatuh aku akan terus berjalan di lembah kemalasan. Walaupun aku berusaha untuk menjadi lebih baik dan melakukannya semuanya lebih baik mungkin itu semua tidak cukup membuatku tenang terus saja mimpi buruk akan mendapatkan nilai kecilpun terus menghantuiku dan terus menerus aku mencoba memotivasi diriku sendiri bahwa hasil akhir adalah hadiah dari Allah dan jika nanti aku terjatuh lagi mungkin itu tidak akan sakit karena aku pernah terjatuh. Aku berusaha di semester dua agar mendapatkan 24 sks setidaknya itu saja sudah membuatku senang. Berusaha dengan sungguh –sungguh dan tentu saja berdoa. Memang ini adalah awal  bagiku untuk bangkit memang susah untuk di jalankan rasa malas sering menghampiriku. Jika aku pasrah sekarang aku tak tau akan jadi apa aku nanti.
Di semester dua ini aku juga mulai aktif di sebuah organisasi karena kata orang kalau kuliah tidak ikut organisasi seperti sayur tanpa garam, dan aku juga ingin tahu bagaimana jadi aktivis mahasiswa yang aktif di organisasi dan juga pintar dalam pelajaran. Di semester dua ini aku tidak terlalu aktif karena aku baru mencoba, sebenarnya aku tidak mau masuk ke organisasi manapun aku takut menggangku kuliahku. Tapi rasa penasaranku mencoba-coba untuk sedikit aktif di organisasi.
Banyak organisasi di FISIP UNSRI seperti HIMASOS, LIMAS, MASOPALA, WAKI, BEM FISIP dan DPM FISIP UNSRI. Organisasi yang pertama ingin aku masuki adala BEM FISIP UNSRI tapi tak tahu kenapa padahal formulir sudah ku dapat aku malas untuk mendaftar Lalu aku tertarik dengan sebuah organisasi yaitu WAKI padahal pertama aku kenal waki aku tak suka, karena WAKI organisasi yang kental akan islam, aku malu kalau mau masuk sana takut tidak keterima atau di ejek karena imanku lemah. Kenapa aku masuk waki? Mungkin salah satu faktor yaitu mentoring aku rajin ikut mentoring padahal waktu SMA, rohis itu wajib sama kayak mentoring tapi cuma ikut satu kali saja. Ternyata mentoring itu asik walau awalnya niatku hanya untuk mengambil niali mata kuliah agama islam.
Di Mentoring aku punya teman baru, bisa dekat dengan mbak-mbak yang ternyata baik,pertama melihat sedikit aneh dengan jilbab panjangnya. Tapi lama-kelamaan asik bisa tahu banyak hal, ternyata masih banyak ilmu agama yang aku belum tahu, aku pikir ilmu agamaku sudah banyak karena sudah dari kecil aku di ajarin agama dan di SD, SMP dan SMA selalu ada pelajaran agama, bukan hanya sekedar tahu tapi di sini aku mulai mengimplementasikannya dalam kehidupanku sehari-hari, aku yang dahulu suka bolong-bolng sholat malas mengaji dan sekarang lebih rajin. Di organisasi inilah motivasi diriku terbangun,  bukan saja soal akidah namun juga intelektual, menambah pengalaman yang seru dan luar biasa, mbak-mbak yang aku ceritain di atas semuanya adalah mbak-mbak di organisasi ini. Aku bertanya banyak hal kepada mereka. Rasa malas untuk aktif di organisasi selalu ada karena terbentur dengan perkuliahan dengan alasan banyak tugas dan disini aku kuliah bukan ikut berorganisasi memaksaku untuk tidak aktif berorganisasi, namun terpikir di benakku sebuah ayat yaitu “jika engkau menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu”. Aku percaya  dengan ayat ini tapi sekarang yang penting ini nilaiku banyak orang lain yang akan membela agama Allah dan apa kontribusiku juga gak berpengaruh kayaknya untuk organisasi ini pikirku. Sesekali aktif di organisasi dengan pikiran bahwa Allah akan membantuku karena aku telah membantu agama Allah sebisa mungkin. Alhamdulillah semester 2 kulewati denganm mendapatkan 24 SKS itu hadiah terindah dalam hidupku.
Di semester tiga rasa syukur tak henti ku panjatkan dan benar janji Allah itu tak akan pernah Ia ingkari. Di sini aku baru aktif berorganisasi mencari arti di jurusan sosiologi ini mencari jawaban kenapa aku di sini sekali lagi aku berpikir mungkin ini takdir yaitu untuk lebih dekat dengan-Nya. Walau rasa khawatir itu tetap ada, selama ini aku pikir jika terlalu aktif di organisasi maka akan berdampak di nilai ternyata tidak selama kita masih terus berusaha menyeimbangkan kedua-duanya.
 Walau akhir pekan tugas menumpuk dan acara organisasi juga menumpuk. Alhamdulillah aku bisa mengerjakan kedua-duanya ternyata organisasi juga salah satu motivasiku dalam belajar jika di semster 1 dan 2 aku dapat bersantai-santai dan dapat menundah tugasku berbeda dengan saaat aku aktif di organisasi karena banyak agenda dalam organisasi maka memacu diriku untuk mengerjakan tugas sesegera mungkin karena waktu adalah segala-galanya disinilah aku belajar cara memanfaatkan waktu jangan sampai kita di atur oleh waktu tetapi kita harus mengatur waktu. Organisasi lancar begitupun dengan perkuliahan kenapa aku tidak aktif di organisasi lain kenapa harus waki yah aku pikir-pikir dari aku harus ikut ke dalam sebuah organisasi yang harus memberikanku manfaat. Bukan hanya untuk besenang-senang dan memberikan pengalaman. Di waki aku mendapatkan segalanya keluarga yang baik, rumah untukku saat di kampus. Dan pengalaman yang sangat luar biasa dulu aku pikir masuk organisasi islam itu membosankan hanya mendengarkan orang ceramah tapi tidak disini aku bisa tau cara berorganisasi, cara membagi waktu, dapat berkenalan dengan orang-orang hebat, dapat bertanya tentang semua yang aku tidak tau, dan  paling penting adalah di sini aku seperti mendapatkan guru privat untuk tugas kuliahku tidak itu saja aku dapat menjalah pengalaman dengak kuliah kerja dakwa, bagaimana membuat sebuah acara besar, bagaimana menghasilkan uang, menghabiskan akhir minggu dengan kumpul bersama keluarga waki. Bersenang-senang, jalan-jalan,membuat kegiatan selama aku kuliah lebih bermanfaat dan sangat penting di sini aku dapat menyalurkan kemampuan seniku yang sedikit ku punya. Di sini aku bisa membuat pamplet dan banner aku bisa belajar fhotoshop. Di organisasi WAKI aku berada di sebuah departemen event organiser dan keminfo. Dan masih banyak lagi manfaat yang insaallah barokah di sini.

Sekarang aku harus lebih semangat lebih bersungguh-sungguh untuk menggapai mimpiku. sedikit saja rasa sombong akan dapat membunuhku, maka aku harus berhati-hati jangan terlena dengan nilai yang ku dapat sekarang alhamdulillah semester 3 dan 4 dapat ku leawti dengan mendapatkan 24 sks. Walau nilaiku tak sebagus dari teman-temanku yang sangan pintar di kelas aku bersyukur, semoga aku dapat meningkatkannya lagi dan semangat mengejar mimpi walau tidak tau apa yang akan ku lewati nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar