Aku adalah mahasiswi di
Universitas Sriwijaya jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, aku
tidak tahu mengapa aku dapat masuk kejurusan sosiologi. Padahal dulu cita-citaku ingin jadi dokter,
dan saat kelas 12 SMA aku ingin masuk jurusan geografi, tetapi tidak ada di
UNSRI, lalu aku memilih jurusan yang sesuai denganku di universitas sriwijaya
yang pasti aku tidak mau masuk fakultas ekonomi, waktu itu aku juga tidak tahu
mengapa aku tidak mengambil akutansi atau manajemen. Malah aku memilih
sosiologi, hanya satu yang aku pikirkan
di manapun aku berada aku harus bisa jadi yang terbaik.
Di
semester pertama aku berontak akan takdir padahal ini pilihanku sendiri.
Khawatir nanti akan jadi apa, dan orang-orang di sekitarku mulai mencemooh, “mau
jadi apa di jurusan sosiologi?”. Aku juga merasa kecil hati. Tapi, aku berkatadi
dalam hatiku, ini pilihanku kalau aku mau akutansi dari dulu aku akan memilihnya.
Jadi apapun aku kelak yang pasti sekarang, aku berusaha. Namun, aku tidak tahu
mengapa di semester pertama aku sangat terpuruk mungkin, karena belum terbiasa
melakukan segala hal sendiri, jauh dari orang tua. Aku sungguh-sungguh terjatuh
di semester pertama rasanya seperti mimpi saat melihat nilai di akademik.
Langsung kepikiran untuk pindah jurusan. Apa aku salah jurusan. Pertanyaan itu
terus muncul di pikiranku, apa dosen yang salah memberiku nilai. Mungkin nilai
yang berikan kepadaku adalah nilai yang di asalan saja. Aku masuk terus,
ngerjain tugas terus, mengikuti kuis, MID dan UAS. Menapa nilaiku jatuh dari
teman-temanku yang aku pikir lebih malas dari aku. Aku juga kesal kenapa setiap
tugas kuis, MID, UAS nilainya tidak pernah di kasih tahu, salahnya dimana? aku
pasti akan suka rela menerima nilai ini jika, aku tau berapa hasil tugas kuis,
MID semester dan kertasnya di kembalikan lagi ke mahasiswa.
Pemberontakan diriku
tak bisa kutahan lagi, saat mengingat dengan IPKku aku mulai lemas. Namun orang-orang
di sekitarku bagai angin sejuk di padang pasir, mereka selalu memotivasiku,
salah satunya temenku saat ia uga cerita kalu nilainya tak jauh beda dengan
nilaiku, sedikit menghibur, tahu kalo ada teman yang satu nasib denganku. Salah
satu mbak tingkatku berkata “jangan sia-siakan kesempatan ini jauh-jauh datang
dari ulak jermun hanya membawa nilai kecil itu mengecewakan”, sedikit memberiku
motivasi. Aku harus tunjukan jika aku bisa, kata-kata motivasi ini mulai
terngiang lagi di pikiranku, “di manapun engkau berada maka berusahalah menjadi
yang terbaik yang penting berusaha hasil akhir adalah hadiah”. Banyak motivasi
yang ku dapatkan dari orang-orang di sekitarku yaitu “kerjakan semuanya ikhlas
karena Allah untuk mencari berkha-Nya”. “Allah lebih menyukai sebuah proses
bukan sebuah hasil”. Dengan semangat yang menggelora aku kembali berusaha,
mencoba kembali bertarung dengan nasib, di jurusan sosiologi. Tidak akan ku
sia-siakan lagi kesempatan ini, saat aku berpikir mengapa aku bisa mendapatkan
nilai kecil, ini semua salahku bukan
salah takdir atau salah dosen tapi kesalah diriku sendiri yang terlalu santai
dan malas menganggap semuanya mudah, tidak serus belajar dan pola belajarku
waktu semester 1 sama seperti waktu SMA.
Sudah
cukup menyalakan orang lain dan jangan menyalakan diri sendiri, tidak baik
berlarut-larut dalam kesedian sekarang aku harus bangkit, berusaha
sungguh-sungguh tidak ada lagi kata malas tidak ada lagi kata sedih, dulu aku
selalu mengeluh dengan kesepianku di kost, tidak menyenangkan dan capek. Mengerjakan
semuanya sendiri, aku harus mengganti pola pikirku. Di sini aku bukan mencari
kesenangan, di sini aku bukan untuk bersantai dan menikmati hidup, disini
tempat aku belajar, bertarung dengan nasib buruk. Mata ku mulai tebuka saat di semester
dua. Aku mulai mendengar, melihat dan mencari apa yang salah dengan diriku. Ini
adalah awal baru bagiku, khAwatir bagaimana kalau aku lebih jatuh atau lebih
terpuruk dari semester kemarin, itu mimpi buruk bagiku sekaligus cambuk saat
aku malas, karena itu IPKku tulis besar-besar di kamarku, agar menjadi alarem
dalam hidupku. Salah satu temen sekostnku memberiku saran agar setiap pulang
kuliah catatanku di catat ulang untuk di rapikan kembali. Aku pikir itu saran yang baik, tulisanku
hancur karena dosen jelasinnya cepat bukan seperti waktu di SD atau SMP guru
menunggu kita untuk selesai mencatat, mungkin karena catatan yang hancur jadi
akau malas membacanya. Terus saran lain juga aku dapatkan dari teman SMAku
yaitu walau kita tidak punya catatan atau tidak punya buku. Setidaknya kita tau
Silabus perkuliahan dan kita cari di internet, Jangan diam saja ketika tidak
ada catatan dan tidak ada buku itu hanya alasan dari kemalasan. Dan ini saran
dari mbak tingkatku saat dosen menjelaskan jangan hanya mengobrol atau mencatat
di slide power point saja tapi dengerin apa yang
di jelaskan dosen itu lebih penting. Belajar jangan hanya mengejar nilai tapi lakukanlah
untuk mendapatkan ilmu, jangan takut salah yang penting telah mencoba.
Di
semester dua semua saran-saran, kata-kata motivasi dan cambukan nilai terus
terbayang-bayang dalam hidupku. Aku berjanji kepada diri sendiri tidak mau
terjatuh untuk kedua kali. Aku harus mengambil hikmah dari semua ini karena
kata orang “guru yang paling baik adalah pengalaman” dan jika aku tidak jatuh sekarang mungkin aku
tidak tahu jika pola belajarku salah, mungkin jika aku tidak terjatuh aku akan
terus berjalan di lembah kemalasan. Walaupun aku berusaha untuk menjadi lebih
baik dan melakukannya semuanya lebih baik mungkin itu semua tidak cukup
membuatku tenang terus saja mimpi buruk akan mendapatkan nilai kecilpun terus
menghantuiku dan terus menerus aku mencoba memotivasi diriku sendiri bahwa
hasil akhir adalah hadiah dari Allah dan jika nanti aku terjatuh lagi mungkin
itu tidak akan sakit karena aku pernah terjatuh. Aku berusaha di semester dua
agar mendapatkan 24 sks setidaknya itu saja sudah membuatku senang. Berusaha
dengan sungguh –sungguh dan tentu saja berdoa. Memang ini adalah awal bagiku untuk bangkit memang susah untuk di
jalankan rasa malas sering menghampiriku. Jika aku pasrah sekarang aku tak tau
akan jadi apa aku nanti.
Di
semester dua ini aku juga mulai aktif di sebuah organisasi karena kata orang
kalau kuliah tidak ikut organisasi seperti sayur tanpa garam, dan aku juga
ingin tahu bagaimana jadi aktivis mahasiswa yang aktif di organisasi dan juga
pintar dalam pelajaran. Di semester dua ini aku tidak terlalu aktif karena aku baru
mencoba, sebenarnya aku tidak mau masuk ke organisasi manapun aku takut
menggangku kuliahku. Tapi rasa penasaranku mencoba-coba untuk sedikit aktif di
organisasi.
Banyak
organisasi di FISIP UNSRI seperti HIMASOS, LIMAS, MASOPALA, WAKI, BEM FISIP dan
DPM FISIP UNSRI. Organisasi yang pertama ingin aku masuki adala BEM FISIP UNSRI
tapi tak tahu kenapa padahal formulir sudah ku dapat aku malas untuk mendaftar
Lalu aku tertarik dengan sebuah organisasi yaitu WAKI padahal pertama aku kenal
waki aku tak suka, karena WAKI organisasi yang kental akan islam, aku malu
kalau mau masuk sana takut tidak keterima atau di ejek karena imanku lemah.
Kenapa aku masuk waki? Mungkin salah satu faktor yaitu mentoring aku rajin ikut
mentoring padahal waktu SMA, rohis itu wajib sama kayak mentoring tapi cuma
ikut satu kali saja. Ternyata mentoring itu asik walau awalnya niatku hanya
untuk mengambil niali mata kuliah agama islam.
Di
Mentoring aku punya teman baru, bisa dekat dengan mbak-mbak yang ternyata baik,pertama
melihat sedikit aneh dengan jilbab panjangnya. Tapi lama-kelamaan asik bisa tahu
banyak hal, ternyata masih banyak ilmu agama yang aku belum tahu, aku pikir
ilmu agamaku sudah banyak karena sudah dari kecil aku di ajarin agama dan di SD,
SMP dan SMA selalu ada pelajaran agama, bukan hanya sekedar tahu tapi di sini
aku mulai mengimplementasikannya dalam kehidupanku sehari-hari, aku yang dahulu
suka bolong-bolng sholat malas mengaji dan sekarang lebih rajin. Di organisasi
inilah motivasi diriku terbangun, bukan
saja soal akidah namun juga intelektual, menambah pengalaman yang seru dan luar
biasa, mbak-mbak yang aku ceritain di atas semuanya adalah mbak-mbak di
organisasi ini. Aku bertanya banyak hal kepada mereka. Rasa malas untuk aktif
di organisasi selalu ada karena terbentur dengan perkuliahan dengan alasan
banyak tugas dan disini aku kuliah bukan ikut berorganisasi memaksaku untuk
tidak aktif berorganisasi, namun terpikir di benakku sebuah ayat yaitu “jika engkau menolong agama Allah maka Allah
akan menolongmu”. Aku percaya dengan ayat ini tapi sekarang yang penting ini nilaiku banyak
orang lain yang akan membela agama Allah dan apa kontribusiku juga gak
berpengaruh kayaknya untuk organisasi ini pikirku. Sesekali aktif di organisasi
dengan pikiran bahwa Allah akan membantuku karena aku telah membantu agama
Allah sebisa mungkin. Alhamdulillah semester 2 kulewati denganm mendapatkan 24 SKS
itu hadiah terindah dalam hidupku.
Di
semester tiga rasa syukur tak henti ku panjatkan dan benar janji Allah itu tak
akan pernah Ia ingkari. Di sini aku baru aktif berorganisasi mencari arti di
jurusan sosiologi ini mencari jawaban kenapa aku di sini sekali lagi aku
berpikir mungkin ini takdir yaitu untuk lebih dekat dengan-Nya. Walau rasa khawatir
itu tetap ada, selama ini aku pikir jika terlalu aktif di organisasi maka akan
berdampak di nilai ternyata tidak selama kita masih terus berusaha
menyeimbangkan kedua-duanya.
Walau akhir pekan tugas menumpuk dan acara
organisasi juga menumpuk. Alhamdulillah aku bisa mengerjakan kedua-duanya
ternyata organisasi juga salah satu motivasiku dalam belajar jika di semster 1 dan
2 aku dapat bersantai-santai dan dapat menundah tugasku berbeda dengan saaat
aku aktif di organisasi karena banyak agenda dalam organisasi maka memacu
diriku untuk mengerjakan tugas sesegera mungkin karena waktu adalah segala-galanya
disinilah aku belajar cara memanfaatkan waktu jangan sampai kita di atur oleh
waktu tetapi kita harus mengatur waktu. Organisasi lancar begitupun dengan
perkuliahan kenapa aku tidak aktif di organisasi lain kenapa harus waki yah aku
pikir-pikir dari aku harus ikut ke dalam sebuah organisasi yang harus
memberikanku manfaat. Bukan hanya untuk besenang-senang dan memberikan
pengalaman. Di waki aku mendapatkan segalanya keluarga yang baik, rumah untukku
saat di kampus. Dan pengalaman yang sangat luar biasa dulu aku pikir masuk organisasi
islam itu membosankan hanya mendengarkan orang ceramah tapi tidak disini aku
bisa tau cara berorganisasi, cara membagi waktu, dapat berkenalan dengan
orang-orang hebat, dapat bertanya tentang semua yang aku tidak tau, dan paling penting adalah di sini aku seperti
mendapatkan guru privat untuk tugas kuliahku tidak itu saja aku dapat menjalah
pengalaman dengak kuliah kerja dakwa, bagaimana membuat sebuah acara besar,
bagaimana menghasilkan uang, menghabiskan akhir minggu dengan kumpul bersama
keluarga waki. Bersenang-senang, jalan-jalan,membuat kegiatan selama aku kuliah
lebih bermanfaat dan sangat penting di sini aku dapat menyalurkan kemampuan
seniku yang sedikit ku punya. Di sini aku bisa membuat pamplet dan banner aku
bisa belajar fhotoshop. Di organisasi WAKI aku berada di sebuah departemen
event organiser dan keminfo. Dan masih banyak lagi manfaat yang insaallah
barokah di sini.
Sekarang
aku harus lebih semangat lebih bersungguh-sungguh untuk menggapai mimpiku. sedikit
saja rasa sombong akan dapat membunuhku, maka aku harus berhati-hati jangan
terlena dengan nilai yang ku dapat sekarang alhamdulillah semester 3 dan 4
dapat ku leawti dengan mendapatkan 24 sks. Walau nilaiku tak sebagus dari
teman-temanku yang sangan pintar di kelas aku bersyukur, semoga aku dapat
meningkatkannya lagi dan semangat mengejar mimpi walau tidak tau apa yang akan
ku lewati nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar