Sebanarnya sudah lama ingin
menulis tentang sesuatu ini....
Saat melihat
setiap blog gelas kece pasti ada yang membahas masalah ini, namun blogku
kayaknya belum pernah membahas kasus ini...
Apa yah ???
Penting
gak sih... kenapa aku gak ngepost masalah yang satu ini, mungkin aku malu atau
karena aku takut atau aku tidak tau apa yang menjadi inti permasalahan kasus
ini atau memang tak ada cerita tentang kasus ini? Aku gak tau apa alasan yang
tepatnya.
Tentang apa si? Tebak sendiri apa yah..
Ia
adalah sesuatu yang tak terwujud sesuatu yang menyenangkan di awalnya, ia
sebuah candu, sekali merasakannya maka akan terus ketagihan, ia dapat merubah
seseorang secara derastis menjadi lebih ceria dari biasanya. Ia terus meminta
lebih terus lebih dan seseorang tak kuasa akan mengikutinya seperti sebuah
kapas yang di terbangkan angin.
Dosisnya
juga akan terus bertambah setiap waktu, seseorang yang telah tercandu olehnya
tak akan mudah terlepaskan. Jika tidak dapat menahanyanya di awal maka ia akan
seperti sebuah benih pohon jika lama kelamaan ia akan menjadi sebuah pohon yang
kokoh, yang akarnya akan menancap kuat ke dalam tanah. Jika sekali tertanam maka ia akan terus
tumbuh, apalagi engkau beri pupuk maka ia akan cepat tumbuh.
Apa
salah jika tercandu olehnya? Apa salah jika ia tertanam dan tumbuh besar? apa
kapas yang salah karena ia terlalu ringan hingga ia terbang melayang saat angin
menerpanya?
Saat
di tanyakan itu semua, sebenarnya ia tau jawabanya, sangat tau dan paham atas
jawaban itu. tapi...... ada sebuah tameng yang seolah-olah membuatnya tidak
menjadi terdakwah dalam kasus ini.
Sebuah tameng yaitu “ketidak berdayaan”. Berdalih bahwah ini semua di
luar kemampuannya, berdalih bahwa arus air yang deras sehingga ia tak dapat
berenang melawannya atau berenang ke tepian. Padahal itu semua hanya sebagai
kambing hitam untuk mendapatkan segores kebahagiaan, ia ingin terus mendapatkan
goresan kebahagian itu, semakin banyak, semakin dalam. Beharap jauh akan
goresan-goresan itu akan menjadi sebuah gambar sempurna yang ia inginkan.” Tapi
salah”, padahal ia telah belajar dari setiap lembar, setiap lembaran itu penuh
akan goresan namun tak satu lembarpun membentuk sebuah gambaran yang di
inginkannya. Tapi ia terus mencoba dan mencoba. Ternyata ini bukan sebuah
lembaran kertas dan goresan itu bukan sebuah pena dan gambaran itu bukan dapat
di lihat dengan mata.
Tapi
itu adalah sebuah goresan pisau di lembaran kehidupan namun tak satu gambaran
yang ia inginkan tak dapat ia nikmati dan rasakan di akhirnya. Karena gambaran
itu adalah gambaran kehidupan.
Ia
tahu di mana akhir dari sebuah candu, ia tau akhir dari sebuah pohon, ia tau
akhir dari sebuah sayatan pisau, tapi ada sebuah tembok besar yang menghadang
penglihatannya sehingga apa yang di lihatnya adalah sebuah gambaran di tembok
itu dan jika ia sampai maka yang ia rasakan hanyalah sakit akibat menabrak tembok
yang ia buat sendiri.
Yah ujung dari kasus ini adalah “SAKIT” yang sangat susah
menyembuhkannya. Saat engkau telah terlilit olehnya dan telah merasakat sakit
dari goresan yang kau anggap kebahagiaan. Air mata akan menjadi sebuah bukti
kesakitan itu. Air mata akan yang akan
setiap saat menemanimu.
Engkau
ingin sekali keluar dari candu itu ingin sekali menebang pohon itu bahkan ingin
sekali mencabutnya hingga ke akar-akarnya saat engkau telah merasakan sakitnya.
Namun
beberapa rasa sakit tidak menjadi tamparan karena ia terbuai dengan sedikit
kebahagiaan, yang kebahagiaan itu seperti sebuah angin di tengah gurun. Engkau
menganggapnya akan membawa kesejukan namun salah angin itu adalah sebuah badai
pasir yang menerpamu.
Akhirnya
hanya akan ada penyesalan. Mengapa mencoba merasakan candu itu mengapa menumbuh
suburkan benih pohon itu. dan akhirnya untuk dapat membunuhnya, jalan yang di
tempuh adalah dengan membencinya. Membenci gelas candu tersebut. Membencih cahaya
yang menyinari pohon tersebut.
Seolah
olah menyalah kan cahaya matahari sehingga pohon tersebut tumbuh besar. seolah
olah menyalakan gelas yang telah menjadi wadah candu tersebut. Padahal yang
salah adalah ia yang memberinya benih pohon itu pupuk. Kenapa tak kau tutupi
saja cahaya matahari itu agar tidak mengenai benih pohon itu dan jangan kau
beri pupuk. Jangan salahkan cangkir itu karena ia hanya sebagai alat. Yang
memasukan candu itu padahal ia sendiri. Tapi ia menyalakan orang lain dan
membencihnya sangat dalam.
Pada
akhirnya saat mata benar-benar terbuka, saat jalan itu ia temukan, saat
semuanya telah hilang tak membekas hanya penyesalannya yang ada. Bukan menyesal
karena adanya candu dan pohon tapi menyesal karena telah membenci cangkir dan
cahaya matahari tersebut. Yang benci itu hanya meninggalkan rasa bersalah.
Bersalah telah membencinya. Bersalah telah memutuskan tali silahturami bersalah
karena tidak pernah meminta maaf karena itu juga kesalahannya. Tapi ia akan
belajar dari pengalaman ini. Jika ia telah tahu akhir dari sebuah cerita, jika
ia tahu jalan yang benar dan jika ia tau tujuan dari hidup ini maka ia tak akan
menyiksa dirinya lagi. Ia tau bahwa nanti gambaran itu bukan sebuah gambaran di
tembok. Jika jalan yang kita tempuh adalah jalan yang di ridhoi Allah. Maka
kita kan menemukan sebuah gambaran kehagiaan nyata yang akan kita rasakan.
Dan Jika ia telah tau cinta
yang sejati adalah kepada Allah, maka ia tahu bahwa cinta sejatinya kepada Allahlah yang akan mengantarkannya kepada
pendamping untuk mencapai kebahagiaan sesungguhnya.
Dan
pada akhirnya engkau tahu kasus ini tentang apa :D
Tidak
perlu menyelam di sebuah danau, jika ingin hanya ingin mengukur kedalamannya.
Cukup engkau lihat orang-orang yang pernah tenggelam dalam danau tersebut.
Tidak
perlu kau memegang api jika hanya ingin merasakan seberapa panasnya, cukup
engkau lihat berapa banyak orang terbakar oleh api itu.
Dan aku
telah banyak melihatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar