Selasa, 26 Mei 2015

Sebuah Kasus yang Rumit atau Sederhana?

Sebanarnya sudah lama ingin menulis tentang sesuatu ini....
Saat melihat setiap blog gelas kece pasti ada yang membahas masalah ini, namun blogku kayaknya belum pernah membahas kasus ini...
Apa yah ???
Penting gak sih... kenapa aku gak ngepost masalah yang satu ini, mungkin aku malu atau karena aku takut atau aku tidak tau apa yang menjadi inti permasalahan kasus ini atau memang tak ada cerita tentang kasus ini? Aku gak tau apa alasan yang tepatnya.
Tentang apa si?  Tebak sendiri apa yah..
            Ia adalah sesuatu yang tak terwujud sesuatu yang menyenangkan di awalnya, ia sebuah candu, sekali merasakannya maka akan terus ketagihan, ia dapat merubah seseorang secara derastis menjadi lebih ceria dari biasanya. Ia terus meminta lebih terus lebih dan seseorang tak kuasa akan mengikutinya seperti sebuah kapas yang di terbangkan angin.
Dosisnya juga akan terus bertambah setiap waktu, seseorang yang telah tercandu olehnya tak akan mudah terlepaskan. Jika tidak dapat menahanyanya di awal maka ia akan seperti sebuah benih pohon jika lama kelamaan ia akan menjadi sebuah pohon yang kokoh, yang akarnya akan menancap kuat ke dalam tanah.  Jika sekali tertanam maka ia akan terus tumbuh, apalagi engkau beri pupuk maka ia akan cepat tumbuh.
Apa salah jika tercandu olehnya? Apa salah jika ia tertanam dan tumbuh besar? apa kapas yang salah karena ia terlalu ringan hingga ia terbang melayang saat angin menerpanya?
Saat di tanyakan itu semua, sebenarnya ia tau jawabanya, sangat tau dan paham atas jawaban itu. tapi...... ada sebuah tameng yang seolah-olah membuatnya tidak menjadi terdakwah dalam kasus ini.  Sebuah tameng yaitu “ketidak berdayaan”. Berdalih bahwah ini semua di luar kemampuannya, berdalih bahwa arus air yang deras sehingga ia tak dapat berenang melawannya atau berenang ke tepian. Padahal itu semua hanya sebagai kambing hitam untuk mendapatkan segores kebahagiaan, ia ingin terus mendapatkan goresan kebahagian itu, semakin banyak, semakin dalam. Beharap jauh akan goresan-goresan itu akan menjadi sebuah gambar sempurna yang ia inginkan.” Tapi salah”, padahal ia telah belajar dari setiap lembar, setiap lembaran itu penuh akan goresan namun tak satu lembarpun membentuk sebuah gambaran yang di inginkannya. Tapi ia terus mencoba dan mencoba. Ternyata ini bukan sebuah lembaran kertas dan goresan itu bukan sebuah pena dan gambaran itu bukan dapat di lihat dengan mata.
Tapi itu adalah sebuah goresan pisau di lembaran kehidupan namun tak satu gambaran yang ia inginkan tak dapat ia nikmati dan rasakan di akhirnya. Karena gambaran itu adalah gambaran kehidupan.
Ia tahu di mana akhir dari sebuah candu, ia tau akhir dari sebuah pohon, ia tau akhir dari sebuah sayatan pisau, tapi ada sebuah tembok besar yang menghadang penglihatannya sehingga apa yang di lihatnya adalah sebuah gambaran di tembok itu dan jika ia sampai maka yang ia rasakan hanyalah sakit akibat menabrak tembok yang ia buat sendiri.
          Yah ujung dari kasus ini adalah “SAKIT” yang sangat susah menyembuhkannya. Saat engkau telah terlilit olehnya dan telah merasakat sakit dari goresan yang kau anggap kebahagiaan. Air mata akan menjadi sebuah bukti kesakitan itu.  Air mata akan yang akan setiap saat menemanimu.
Engkau ingin sekali keluar dari candu itu ingin sekali menebang pohon itu bahkan ingin sekali mencabutnya hingga ke akar-akarnya saat engkau telah merasakan sakitnya.
Namun beberapa rasa sakit tidak menjadi tamparan karena ia terbuai dengan sedikit kebahagiaan, yang kebahagiaan itu seperti sebuah angin di tengah gurun. Engkau menganggapnya akan membawa kesejukan namun salah angin itu adalah sebuah badai pasir yang menerpamu.
Akhirnya hanya akan ada penyesalan. Mengapa mencoba merasakan candu itu mengapa menumbuh suburkan benih pohon itu. dan akhirnya untuk dapat membunuhnya, jalan yang di tempuh adalah dengan membencinya. Membenci gelas candu tersebut. Membencih cahaya yang menyinari pohon tersebut.
Seolah olah menyalah kan cahaya matahari sehingga pohon tersebut tumbuh besar. seolah olah menyalakan gelas yang telah menjadi wadah candu tersebut. Padahal yang salah adalah ia yang memberinya benih pohon itu pupuk. Kenapa tak kau tutupi saja cahaya matahari itu agar tidak mengenai benih pohon itu dan jangan kau beri pupuk. Jangan salahkan cangkir itu karena ia hanya sebagai alat. Yang memasukan candu itu padahal ia sendiri. Tapi ia menyalakan orang lain dan membencihnya sangat dalam.
Pada akhirnya saat mata benar-benar terbuka, saat jalan itu ia temukan, saat semuanya telah hilang tak membekas hanya penyesalannya yang ada. Bukan menyesal karena adanya candu dan pohon tapi menyesal karena telah membenci cangkir dan cahaya matahari tersebut. Yang benci itu hanya meninggalkan rasa bersalah. Bersalah telah membencinya. Bersalah telah memutuskan tali silahturami bersalah karena tidak pernah meminta maaf karena itu juga kesalahannya. Tapi ia akan belajar dari pengalaman ini. Jika ia telah tahu akhir dari sebuah cerita, jika ia tahu jalan yang benar dan jika ia tau tujuan dari hidup ini maka ia tak akan menyiksa dirinya lagi. Ia tau bahwa nanti gambaran itu bukan sebuah gambaran di tembok. Jika jalan yang kita tempuh adalah jalan yang di ridhoi Allah. Maka kita kan menemukan sebuah gambaran kehagiaan nyata yang akan kita rasakan.
Dan Jika ia telah tau cinta yang sejati adalah kepada Allah, maka ia tahu bahwa cinta sejatinya kepada  Allahlah yang akan mengantarkannya kepada pendamping untuk mencapai kebahagiaan sesungguhnya.
Dan pada akhirnya engkau tahu kasus ini tentang apa :D
Tidak perlu menyelam di sebuah danau, jika ingin hanya ingin mengukur kedalamannya. Cukup engkau lihat orang-orang yang pernah tenggelam dalam danau tersebut.
Tidak perlu kau memegang api jika hanya ingin merasakan seberapa panasnya, cukup engkau lihat berapa banyak orang terbakar oleh api itu.
Dan aku telah banyak melihatnya.            


Tidak ada komentar:

Posting Komentar